Friday, November 5, 2010

beda, sama. lalu apa?

salahkah dia?
salahkah saya?
salahkah kamu?
salahkah kami?
salahkah kita?



yang hanya men-judge sesuatu dari luarnya saja.
yang hanya melihat sesuatu dari permukaan saja.
yang hanya menerka sesuatu dari kemasannya saja.
yang hanya menilai sesuatu dari penglihatan sekilas saja.

yang lagi-lagi menyimpulkan dari perspektif dan paradigma masing-masing saja, tanpa mencoba merasakan menjadi pribadi yang berbeda dari biasa.



tidak bolehkah ada yang beda?

tidak bolehkah ada yang lain?
tidak bolehkah ada anomali?



biarkan perbedaan itu ada,

biarkan hal yang lain itu ada,
dan biarkan sesuatu anomali itu ada.



tidakkah ingin mencoba berbagi dengan saya?
daripada berkasak-kusuk di belakang (maupun depan) saya?
tidakkah ingin mencoba mengklarifikasi kepada saya?

daripada membuat persepsi yang merugikan saya?

tidakkah ingin berdialog dan berkomunikasi dengan hati yang kosong dengan saya?

daripada terlanjur menilai dengan hati yang terisi penuh oleh prasangka kepada saya?



lalu buat apa semua puja puji kepada empunya kehidupan jika hati tidak dipenuhi dengan hidup yang benar-benar hidup?
lalu buat apa semua doa dan syukur kepada si maha kuasa jika mulut tidak bisa dikuasai?
lalu buat apa semua sembah dan tabik kepada sang raja segala raja jika pikiran malah dirajai oleh persepsi-persepsi negatif?
lalu buat apa semua itu, semua yang kita lakukan, semua yang kita perjuangkan, semua yang kita pertahankan, jika semua itu hanya akan jadi seonggok sampah belaka.



terima kasih telah memberi perhatian.

terima kasih telah memberi wejangan.
terima kasih telah memberi omongan.
terima kasih telah memberi an, an, an lainnya.








-ditulis setelah selesai menempuh ujian tengah semester pada semester lima yang semakin hari semakin membuat jenuh karena kemonotonannya-

2 comments:

  1. krn g sotoy.com..
    commentnya yaa SPEAK UP aja dehh... :p

    ReplyDelete
  2. speak up, close up, tilt up, mang up.

    ReplyDelete